Search
  • nanda indriana

Menilai Bagaimana Arsitek Bekerja

Good architects tell a story and engage the senses. They understand the rules — and know when to break them



Meskipun sudah ada patokan khusus dalam honorarium, setiap arsitek tentu saja mempunyai berbagai pertimbangan dalam menentukan nilai jasa seperti gaya, alur berpikir, rasa, wawasan serta pengalaman bekerja. Berikut beberapa faktor penilaian yang dapat menjadi gambaran seperti apakah arsitek yang berkualitas.


1. Konsep yang bercerita

Our memories of places are inherently linked to stories. A home that tells the story of a specific client, in a specific place, at a specific time enriches the experience and gives it a reason for being. Arsitek bercerita melalui konsep. bukan sekedar tukang gambar, arsitek membuat alur dalam sebuah ide besar dimana orang yang menghuni bangunan tersebut dapat melihat dan juga merasakan apa, mengapa dan bagaimana ruangan itu dibuat.


Bila seorang chef bercerita lewat masakannya, penulis bercerita lewat narasinya, maka arsitek bercerita lewat tata ruang dan dialog material, serta detail pada bangunan


Narasi dapat mengalir dari sesuatu yang spesifik, misalnya, pohon kesayangan yang ingin dilestarikan, hingga sesuatu yang umum seperti struktur bangunan hingga memaksimalkan pencahayaan dan penghawaan alami. Konsep bisa juga hadir dari permintaan spesifik klien.


Dengan konsep yang matang dan terencana dengan baik, semua penyelesaian masalah desain dapat diselesaikan berdasarkan konsep sehingga menghasilkan keputusan desain yang lebih tepat dan bermakna.


2. Berani mengambil resiko.

Mengambil resiko merupakan hal lumrah di dunia kreatif. Berpikir ulang, membayangkan ulang, mengubah dan menemukan cara baru untuk hal lama.

Bukan berarti semua harus berbeda, namun melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda seringkali dapat menghadirkan solusi menarik yang tidak harus bergantung pada praktek standar.



3. Peduli pada detail*

Pada dasarnya arsitek adalah profesional yang berusaha menyelesaikan masalah, caranya mencari jalan keluar mungkin dapat menjadi gambaran tentang seperti apa arsitek yang baik.

Detail penting karena seringkali detail dapat berupa hal-hal yang sering berinteraksi dengan kita sehari-hari. Detail tercipta sebagai penyelesaian suatu masalah. Pada setiap proyek akan muncul permasalahan yang berbeda-beda, dan harus dijawab dengan detail yang berbeda-beda pula. Jam terbang dan pengalaman seorang arsitek akan tertuang dalam setiap detail yang dibuatnya.


Contoh:

Kanopi beton dengan cat warna putih rasanya cukup sering kita jumpai sekarang ini. Kanopi sering digunakan untuk melindungi jendela dari tampias atau sebagai atap teras. Tapi salah satu masalah yang sering timbul pada kanopi adalah garis-garis hitam yang muncul akibat air hujan yang mengalir dari kanopi menyusur sisi luar kanopi. Salah satu contoh permasalahan yang dapat diselesaikan dengan sebuah detail tambahan pada kanopi, yaitu dengan menambahkan list plat besi sepanjang sisi atas kanopi yang ditekuk khusus untuk memutus aliran air yang turun dari atas dak agar tidak menyusur ke sisi luar kanopi. Keberadaan list ini selain menghadirkan solusi fungsional juga memberikan sentuhan keindahan apabila di desain dengan mempertimbangkan proporsi dan bentuk yang baik. Begitulah seharusnya suatu detail pada bangunan, fungsional namun juga bisa menambah nilai estetika pada bangunan.


4. Mampu menyederhanakan dengan menyusun prioritas

The ability to simplify means to eliminate the unnecessary so that the necessary may speak,”


Terlalu banyak kerumitan dapat menimbulkan kebingungan. Kemampuan arsitek mestinya dapat memilah komponen apa saja yang paling mendasar dalam sebuah proyek. Tanpa guna, sesuatu tidak dapat dikatakan bermakna.

Seorang arsitek pada prakteknya seringkali lebih banyak menggunakan penghapus daripada pensil nya pada saat merancang. Salah satu kutipan dari mentor arsitek senior: “Kalau cukup satu garis, kenapa harus dibuat 2 garis?” merupakan ungkapan yang cukup menggambarkan hal ini. Tapi kesederhanaan itu tidak muncul dengan sendirinya, bahkan seringkali berangkat dari suatu proses berpikir yang amat rumit.


Berikut adalah beberapa aplikasi penyederhanaan yang dapat membuat desain menjadi lebih baik:

Bentuk yang sederhana: biasanya membutuhkan biaya lebih rendah baik dalam pembangunannya maupun dalam perawatannya kelak

Material Palette yang sederhana: cukup gunakan 2 atau 3 material saja pada suatu area. Penggunaan material yang terlalu bervariasi pada suatu area menimbulkan kesan yang terlalu ramai dan kelelahan pada mata yang melihatnya.

Kusen dengan bentuk profil sederhana, atau bahkan tidak menggunakan kusen sama sekali: Menggunakan material yang baik dengan pengerjaan yang baik akan terlihat indah walau bentuknya sederhana.

Sederhanakan ukuran pintu dan jendela: menggunakan ukuran pintu atau jendela yang berulang-ulang akan memudahkan baik pekerjaan di lapangan maupun pada proses fabrikasinya yang pada akhirnya akan memotong biaya.


5. Pendekatan Desain

Arsitek sebagai desainer memiliki prinsip-prinsip dasar yang diterapkan pada setiap rancangannya.


Ketika memulai sebuah proyek, tiga elemen dasarnya adalah: area bangunan (lama maupun baru), klien, serta anggarannya. Narasi dapat diatur dari ketiga komponen ini, di sanalah pengaturan dimulai. Sebelum memutuskan seperti apa bentuk sebuah bangunan, kita perlu memikirkan dan mengatur ruang di area yang tersedia, dari yang paling umum hingga yang paling pribadi dan kemudian memutuskan akan seperti apa konfigurasi pada ruangan nantinya. Untuk renovasi, prinsip pengaturan sering kali ditentukan oleh tantangan yang ada - cahaya alami, ruang, koneksi ke luar ruangan, dan lain-lain.

6. Menghadirkan nuansa lewat repetisi.

Repetisi adalah hal yang baik pada arsitektur. Elemen tematik yang umum diulang lagi untuk menguatkan keteraturan. Jendela, pintu, kolom, ataupun material, kesemuanya adalah bagian dari urutan dasar pada bangunan.

Repetisi bukan berarti membosankan; justru , repetisi membungkus sebuah desain menjadi satu kesatuan. Pola, material dan proporsi yang berulang merupakan dasar dari keteraturan.


7. They break the rules.

Memberikan aksen untuk menghindari kebosanan pada suatu pola yang berulang atau bahkan memperkuat suatu pola yang berulang. dapat berupa warna, bentuk, atau posisi. pemilihan penerapan aksen ini harus bermakna dan kontekstual.


Contoh:

menempatkan dinding miring di antara dinding-dinding lain yang lurus selain untuk memberikan karakter pada bangunan juga guna mengubah arah dinding ke arah timur sehingga jendela yang terletak pada dinding tersebut dapat memasukan sinar matahari pagi ke dalam ruangan


8. Melibatkan pengalaman indera

Saat ini, ketika di dunia maya tampilan gambar-gambar arsitektur memanjakan mata, sebenarnya pengalaman kita akan arsitektur menjadi berbeda. Karena arsitek sebenarnya memikirkan seluruh indera ketika mendesain.

Memikirkan desain dari sebuah pengalaman rasa akan membuka kesempatan untuk menjadikan kehidupan di rumah jauh lebih menyenangkan. Arsitek dan desainer yang baik memikirkan tentang cahaya dan bayangan, ketika matahari bergerak sepanjang hari, dari mana angin datang, serta dari mana suara sekitar—Arsitek yang baik dapat bermain dengan ide-ide ini.


-

Artikel disadur dari houzz.com dengan judul 8 Things Successful Architects and Designers Do oleh Eric Reinholdt

https://www.houzz.com/magazine/8-things-successful-architects-and-designers-do-stsetivw-vs~30635884

12 views0 comments

Recent Posts

See All